Minggu, 13 Desember 2009

Sejarah Pendidikan di Tanah Bagelen

Seorang penulis Perancis Guilot C, cukup mengenal kondisi dan latar belakang sejarah tanah Bagelen akhir abad XIX. Karena pada tahun 1981 di kota Paris ia telah menulis dan menerbitkan sebuah buku kajian berjudul “L ‘Affair Sadrach Essai de Christianisation a Java ou XIXe siecle”. Buku ini pada tahun 1985 sudah diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan judul “Kyai Sadrach, Riwayat Kristenisasi di Jawa”. Buku ini meriwayatkan bagaimana perkembangan agama kristen kerasulan yang berpusat di desa Karangjoso, kecamatan Butuh kabupaten Purworejo berkembang dan berpengaruh di sejumlah tempat di pulau jawa pada abad XIX.
Pada waktu Guilot C ditugaskan sebagai dosen yang diperbantukan UGM, ia menyempatkan datang ke Purworejo. Guilot mengungkapkan bahwa kedatangannya di Purworejo dalam rangka mencari letak pesantren- pesantren kuno yang banyak tersebar di tanah Bagelen dalam rangka penelitian untuk mencari dimana pusat pembuatan kertas “ delancang” berada. Delancang adalah sejenis kertas berkualitas prima dengan ketebalan kira-kira 180 gram terbuat dari kulit kayu, yang pada abad ke XIX dan mungkin juga sebelumnya banyak digunakan untuk pembuatan dokumen dan surat menyurat, karena pada waktu itu masih ditulis dengan “pentutul”, atau pena yang dicelupkan pada botol atau tempat tinta. Dari pengungkapan Guilot dapat diketahui bahwa tanah Bagelen di luar sudah sangat terkenal dengan pesantrennya. Bahkan yang cukup ekstrem menurt K.H N Arifin Husein,MBA, seorang Kyai Muda di Semarang yang tenar sebagai panglima laskar berani matinya Gus Dur, bahwa ada semacam kepercayaan dibeberapa tempat, untuk bisa menjadi besar dan tenar sebelum menjadi seorang Kyai, seseorang perlu lebih dahulu mondok dan menimba ilmu di pesantren-pesantern tanah Bagelen. Kebenaran dan kepercayaan tersebut bukan mustahil antara lain disebabkan oleh tuanya usia pendidikan islam berbentuk pondok pesantren di wilayah Bagelen. Dari telah sejarah perkembangan agama islam di pulau jawa setelah Demak, adalah tanah Bagelen sebelah timur sungai Lukulo yang merupakan wilayah kedua yang mengalami islamisasi. Mubaligh yang terkenal dalam pengembangan agama islam tersebut adalah sunan Geseng.
Maka tidak heran jika di desa Watubelah atau daerah lain di wilayah Loano yang semula bernama Watutihang atau sekarang Salatiang terdapat pesantren tua di tanah Bagelen. Pada perkembangan selanjutnya berkembanglah pesantren-pesantren di daerah Bruno, Somolangu, Ngemplak, Sidomulyo, Mlaran, Maron,Berjan, dan Bulus .
Sejarah pendidikan yag lebih tua terselengara pada zaman klasik hindu sekalipun belum ada bukti tertulis tentang hal tersebut, namun dari situs peninggalan masa klasik hindu seperti yang ada di daerah kecamatan Kemiri dan Pituruh, jelas menunjukkan adanya bekas semacam asrama dalam bentuk serangkaian goa buatan manusia terletak tidak jauh dari aliran sungai. Goa -goa tersebut dilengkapi dengan sarana ritual terbuat dari batu monolith yang ada di daerah India Selatan. Sistem asrama seperti yang bekasnya masih ada di kecamatan Kemiri tersebut bukan mustahil adalah cikal bakal dari padepokan, suatu sitem pendidikan budi luhur spiritual kejawen yang menurut suatu penelitian banyak berpusat di tanah Bagelen.
Sejarah pendidikan secara barat, terjadi pada paska perang jawa (1925-1930). Karena perang telah usai, daerah Kedungkebo, komplek militer yang didirikan sebagai basis garnisun pasukan Belanda di tanah Bagelen dikembangkan menjadi sebuah kota modern. Sekolah dasar pertama yang didirikan adalah sekolah dasar pendidikan militer untuk anak- anak eropa “Europesche Soldateen School”. Sekolah dasar untuk anak- anak pribumi “Inlandsche School” atau dikenal sebagai “Provinciale School” yang dibangun di belakang gereja kristen di kampung Plaosan di timur alun- alun Purworejo. Pada awal abad ke XX, tercatat peristiwa penting di bidang pendidikan ala barat, yaitu didirikannya sekolah pendidikan guru “Holand Kuik School”. Komplek bangunan ini didirikan di bekas tanah lapangan atau alun- alun selatan setelah Kedungkebo digabung dengan Brengkelan yang waktu itu masih masuk wilayah kabupaten Tanggung (Ketanggung) menjadi kota baru purworejo. Komplek bangunan sekolah HKS ini cukup luas, selesai dibangun tahun 1905 dilengkapi dengan asrama dan perumahan guru,. Dihalamannya dahulu banyak ditanam pohon-pohon langka. HKS adalah lembaga pendidikan langka, karena diseluruh pulau jawa, pada waktu itu hanya tercatat 2 atau 3 lembaga serupa. Kemegahan bagunan dan singkatan HKS tersebut malah ada yang menafsirkan sebagai “Holand Koningen School”, atau sekolah raja atau kerajaan. Dengan adanya HKS tersebut, ternyata banyak melahirkan kaum intelek di kalangan pribumi, yang kemudian mempunyai kesadaran nasioanal sehingga terlibat dalam aktivitas yang dikemudian hari dikenal sebagai kebangkitan nasional. Oleh sebab itu tidak mengherankan kalau di tanah Bagelen lahir dan muncul tokoh- tokoh nasional dari berbagai aliran politik, ada yang nasionalis, agamis sosialis sampai komunis. Oleh karena itu bangunan HKS yang sekarang digunakan sebagai gedung SMA 7 Purworejo termasuk bangunan cagar budaya, bukan saja karena latar belakang sejarahnya namun karena juga mempunyai bentuk arsitektur khas, yang harus dijaga kebersihan dan keutuhannya. Karena bisa disebut sebagai monumen pendidikan. Sayang sejumlah buku koleksi perpustakaan tersenut pada masa orde baru karena dianggap sebagi buku terlarang telah dimusnahkan. Menurut catatan Purworejo paska perang kemerdekaan merupakan kabupaten atau ibukota kabupaten pertama yang diberi sekolah menengah atas negeri. Berkat perjuangan para bekas tentara pelajar yang didelegasikan lewat Pamuji tokoh masyarakat Purworejo yang berangkat mengahadap Menteri pendidikan dan kebudayaan di Jakarta. SMA negeri itu terkenal juga sebagai “Monumen Hidup TP Kedu Selatan” dimana sebagian dari mereka kemudian juga menjadi tenaga pengajar di sekolah tersebut. Selain itu kabupaten Purworejo pernah ditunjuk pula sebagai kabupaten pertama yang melakukan “wajib belajar” pada sekitar tahun 1956. Hal ini dikenang dengan tugu belajar yang didirikan di 3 wilayah. Antara lain; di dekat jembatan perbatasan Kebumen - Purworejo. Di depan kantor kecamatan Bener dan di depan kantor Dinas Pendidikan kabupaten Purworejo. Namun tugu peringatan itu sekarang seolah hanya tonggak yang tidak mempunyai makna dan fungsi apapun karena tulisan (prasasti) yang tertulis sudah dihilangkan oleh cat dan kerusakan lain.
Oleh : Radix Penadi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar